1.
Biografi Singkat
Dan Proses Pemilihan Khalifah Abu Bakar Ash–Shiddiq
Abu
Bakar ash-Shiddiq (573 - 634 M, menjadi khalifah 632 - 634 M) lahir dengan nama
Abdus Syams, "Abu bakar" adalah gelar yang diberikan masyarakat
muslim kepadanya. Nama aslinya adalah 'Abdullah bin Abi Quhafah'. Ia mendapat
gelar 'as-Shiddiq' setelah masuk islam. Nama sebelum muslim adalah "Abdul
Ka'bah". Ibunya bernama "Salma Ummul Khair", yaitu anak paman
"Abu Quhafah". Abu Bakar adalah khalifah pertama Islam setelah
wafatnya Nabi Muhammad. Ia adalah salah seorang petinggi Mekkah dari suku Quraisy.
Setelah memeluk Islam namanya diganti oleh Muhammad menjadi Abu Bakar. Ia
digelari Ash- Shiddiq yang berarti yang terpercaya setelah ia menjadi orang
pertama yang mengakui peristiwa Isra' Mi'raj.
Ia
juga adalah orang yang ditunjuk oleh Muhammmad untuk menemaninya hijrah ke
Yatsrib. Ia dicatat sebagai salah satu Sahabat Muhammad yang paling setia dan
terdepan melindungi para pemeluk Islam bahkan terhadap sukunya sendiri.
Ketika
Muhammad sakit keras, Abu Bakar adalah orang yang ditunjuk olehnya untuk
menggantikannya menjadi Imam dalam Salat berjamaah di masjid Nabawi. Hal ini
menurut sebagian besar ulama merupakan petunjuk dari Nabi Muhammad agar Abu
Bakar diangkat menjadi penerus kepemimpinan Islam, sedangkan sebagian kecil
kaum Muslim saat itu, yang kemudian membentuk aliansi politik Syiah, lebih
merujuk kepada Ali bin Abi Thalib karena ia merupakan keluarga nabi. Setelah
sekian lama perdebatan akhirnya melalui
keputusan bersama umat islam saat itu, Abu Bakar diangkat sebagai pemimpin
pertama umat islam setelah wafatnya Muhammad. Abu Bakar memimpin selama dua
tahun dari tahun 632 sejak kematian Muhammad hingga tahun 634 M.
2. Strategi dan Tantangan Dakwah Masa Khalifah Abu Bakar
Ash–Shiddiq
Selama
dua tahun masa kepemimpinan Abu Bakar, masyarakat Arab di bawah Islam mengalami
kemajuan pesat dalam bidang sosial, budaya dan penegakan hukum. Selama masa
kepemimpinannya pula, Abu bakar berhasil memperluas daerah kekuasaan islam ke
Persia, sebagian Jazirah Arab hingga menaklukkan sebagian daerah kekaisaran
Bizantium. Abu Bakar meninggal saat berusia 61 tahun pada tahun 634 M akibat
sakit yang dialaminya.
Abu
Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk
menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan
oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah
sepeninggal Nabi Muhammad. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat
dengan Nabi Muhammad, dengan sendirinya batal setelah nabi wafat. Karena itu
mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka
yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan
persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan
kemurtadan). Khalid bin Al-Walid adalah panglima yang banyak berjasa dalam
Perang Riddah ini.
Nampaknya,
kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa
rasulullah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif
terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah
juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan as-sunnah.
Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad, Abu Bakar selalu mengajak
sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Setelah
menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan
ke luar Arabia. Khalid bin Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah
al-Hirah pada tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat
panglima yaitu Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Amr ibnul 'Ash, Yazid bin Abi Sufyan
dan Syurahbil bin Hasanah. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah bin Zaid
yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid bin Walid
diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani,
ia sampai ke Syria.
3. Jasa–Jasa Masa Khalifah Abu Bakar Ash–Shiddiq
Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama dalam
ketatanegaraan Islam merupakan salah satu refleksi dari konsep politik Islam. Abu Bakar menerima jabatan Khalifah
pada saat sejarah Islam dalam keadaan krisis dan gawat. Yaitu
timbulnya perpecahan, munculnya para nabi palsu dan terjadinya berbagai
pemberontakan yang mengancam eksistensi negeri Islam yang masih baru. Memang
pengangkatan Abu Bakar berdasarkan keputusan bersama (musyawarah di balai
Tsaqifah Bani Sa’idah). Akan tetapi, yang menjadi sumber utama kekacauan ialah
wafatnya nabi dianggap sebagai terputusnya ikatan dengan Islam, bahkan
dijadikan persepsi bahwa Islam telah berakhir.
Jadi dapat disimpulkan bahwa letak peradaban pada masa
Abu Bakar adalah dalam masalah agama (penyelamat dan penegak agama Islam
dari kehancuran serta perluasan wilayah)
melalui sistem pemerintahan (kekhalifahan) Islam. Jasa-jasa dan peninggalan abu bakar
ash shiddiq antara lain yaitu:
a.
Menumpas orang orang uang mengaku sebagai nabi.nabi palsu
itu antara lain: Musailamah al kahzab, Thulaihah dan Aswad al ansi.
b.
Memerangi suku-suku yang tidak mau memekai zakat,karena
perjanjian mereka membayar zakat hanya kepada Nabi Muhamad saw.,sehingga
setelah wafat,mereka merasa bebas untuk tidak membayar zakat.
c.
Memberantasan pemberontakan dari orang-orang murtad dan
menolak hukum islam.
d.
Menugasi zaid bin tsabit untuk menyusun mushaf al qur’an atas usul umar bin khatab. Alasan penyusunan tersebut adalah :
a) Penghafal al qur’an banyak yang
meninggal dalam beberapa pertempuran.
b) Tulisan yang ada di pelepah-pelepah kurma, batu-batu, maupun tulang-tulang, banyak yang berserakan sehingga
dikhawatirkan rusak dan hilang.
e.
Memperluas wilayah penyebaran agama islam ke :
a) Hiroh dijadikan pusat pertahanaan
dan ibu kota diluar arab.
b) Anbar dan persia
c) Daumatul jandal
d) Firad,kazima (mazar)
e) Yarmuk, syam (pernah dikuasai
tentara romawi)
f) Syiria (usman bin zaid bin
haris>< raja herakhis di yarmuk).
f.
Peninggalan-peninggalan Abu Bakar yaitu:
a) Mushaf al quran.
b) Daerah kekuasaan
islam yang semakin meluas.
c) Sikap keteladanan beliau antara lain
teguh pendirian, selalu semangat, tekad, berpegang pada kebenaran dan
berkorban jiwa harta demi membela kewibawaan islam.
1. Biografi Singkat dan Prosesi Pemilihan Khalifah Umar Bin Khattab
Umar ibnu khatab putra dari
nufail al quraisy dari suku bani adl, salah satu kabilah suku quraisy. beliau lahir pada tahun 40 SH, di kota makkah. ayah beliau adalah nufail bin uzza
dari suku adi, sedangkan ibunya yaitu hantamah binti hasyim bin al
mughiroh. Umar bin Khattab,
menjadi khalifah 634 - 644 M adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam.
pengangkatan umar bukan berdasarkan
konsensus tetapi berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar.
Hal ini tidak menimbulkan pertentangan berarti di kalangan umat islam saat itu
karena umat Muslim sangat mengenal Umar sebagai orang yang paling dekat dan
paling setia membela ajaran Islam. Hanya segelintir kaum, yang kelak menjadi
golongan Syi'ah, yang tetap berpendapat bahwa seharusnya Ali yang menjadi
khalifah. Umar memerintah selama sepuluh tahun dari tahun 634 hingga 644.
Ketika
Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para
pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar bin Khatthab sebagai penggantinya
dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan
di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima
masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya
Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah
Amir al-Mu'minin (petinggi orang-orang yang beriman).
Umar bin khatab atalah salah satu
sahabat yang sebelum masuk islam, sangat memusuhi Rasulullah saw. Ketika itu umar muda sedang naik
pitam ingin segera menghabisi muhammad saw. Karena dakwah yang diserukan
dianggap telah memecah belah kaum quraisy. Sebelumnya dua orang tokoh quraisy
yaitu abu jahal dan utbah bin muish sudah berencana membunuh Nabi saw dengan
cara menimakan batu besar dikepala beliau ketika sedang shalat atau
mencekiknya, tetapi usaha itu gagal. maka ketika mendengar umar berencana
membunuh nabi saw, dalam pejalanan bertemu dengan nuaim bin abdullah, kemudian ia menyindir umar bin
khatab dengan mengatakan,”kalau hendak membunuh muhammad, maka bunuhlah dulu keluargamu”. Yang dimaksud adalah adiknya dan
adik iparnya, yaitu anak pamannya yang bernama Said Bid Zaid dan Fatimah. Mendengar kabar itu, umar pun semakin marah.
Tujuan untuk membunuh nabi saw pun
ia tunda dulu kemudian menuju rumah fatimah adiknya, tetapi di mendapati adiknya sedang
membaca ayat-ayat al qur’an. hatinya bergetar kemudian meminta
lembaran-lembaran ayat-ayat alqur’an dan segera mencari nabi saw untuk
menyataan masuk islam.
Ketika umar menyatakan niatnya itu, guru mengaji Fatimah yang bernama
Habah segera keluar seraya berharap agar Allah memilih umar untuk meneguhkan
kekuatan islam sebagaimana do’a nabi saw yang memohon agar islam dikuatkan oleh
salah seorang dari bani al Hakam Bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar Bin Khatab. dengan demikian, Allah telah mengabulkan doa
Nabinya.
2. Strategi dan Tantangan Dakwah Masa Khalifah Umar Bin
Khattab
Dikalangan pembesar quraisy, Umar adalah sosok yang tegas dan
pendirian kuat. setelah masuk islam pun sikap itu semakin kuat, sehingga Nabi saw memberinya gelar Al Faruq yang artinya pemisah atau
pembeda hal itu mengandung maksud bahwa allah menganugrahi padanya suatu sikap
membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
Di
zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi; ibu
kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara
Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah
kekuasaan Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke
Mesir di bawah pimpinan 'Amr bin 'Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa'ad bin
Abi Waqqash. Iskandariah (Alexandria), ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M.
Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah
kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M. Dari sana serangan
dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada
tahun 641 M, Moshul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan
Umar Radhiallahu ‘anhu, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia,
Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.
Karena
perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara
dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia.
Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah provinsi: Makkah,
Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa
departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan
ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam
rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga
keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan
pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan
membuat tahun hijiah
3. Jasa–Jasa dari Masa Khalifah Umar Bin Khattab
Masa khalifahan umar bin khatab berlangsung sekitar 10
tahun. Prestasi
dibidang pengembangan dakwah dan kekuasaan wilayah meliputi kota-kota penting
misalnya :
1.
Disyiria mampu menguasai kota-kota :
a) Yarmuk pada tahun 13 H
b) Damaskus pada tahun 13 H
c) Ajdanian pada tahun 16 H ketika
bertempur melawan pasukan romawi dipimpin amru bin ash.
2.
Dipalestina mampu menguasi kota baitul maqdis pada tahun 18
H sehingga hampir semua wilayah syiria dan palestina menjadi bagian wilayah
kaum muslimin.
3.
Di irak dan persia berhasil dikuasai ketika khalifah
umar bin khatab mengutus saad bin abi waqas yang berusaha keras mengalahkan
pasukan lawan dalam jumlah besar yaitu sebanyak 30.000 orang yang berada
dibawah pimpinan seorang jendral yang bernama rustrom. Pertempuran sengit yang bernama
perang nahawud itu berakhir pada tahun 21 H dengan kemenangan dipihak
kaum muslimin.
4.
Di mesir daerah kekuasaan romawi timur, masyarakat di pungut pajak
yang sangat memberatkan oleh penguasa, sehingga masyarakat sangat
mengharapkan kaum muslimin untuk dapat menolong mereka, akhirnya mereka merasa
bahagia setelah pasukan romawi berhasil dipukul mundur oleh kaum muslimin. Selanjutnya, pertempuran antara dua kekuatan itu
kembali berkecamuk di yarmuk daerah syam. Kaum muslimin dibagi 4 bagian, yaitu :
a) Abu ubaidah
bin jaroh dan pasukannya bertugas menguasai hims.
b) Yazid bin
abu sofyan dan pasukannya bertugas menguasai damaskus.
c) Amir bin ash
dan pasukannya bertugas menguasai palestina.
d) Syurahbil
bin hasanah dan pasukannya bertugas menguasai yordan.
Kemajuan yang dicapai pada masa kepemimpinan khalifah umar bin khatab
antara lain sebagai berikut:
a. Adanya
pembagian daeerah kekuasaan
Khalifah umar bin khatab membagi daerah-daerah islam
dalam beberapa provinsi dan masing-masing provinsi dipimpin seorang gubernur,
misalnya:
a) Sa’ad bin
abi waqos menjadi gubernur propinsi kufah
b) Utbah bin
khazwan menjadi gubernur propinsi basrah
c) Amru bin ash
menjadi gubernur propinsi fustot (mesir)
b. Membentuk
dewan-dewan dalam pemerintahan, misalnya :
a) Baitul maal
(Perbendaharaan Negara), yaitu sebuah lembaga yang mengawasi dan bertugas
mengatur masuk keluarnya keuangan Negara.
b) Dewan
militer (angkatan perang), yaitu lembaga yang bertugas menjaga pertahanan
dan keamanaan Negara khususnya didaerah kekuasaan islam.
c) Dewan hakim,
yaitu lembaga yang bertanggung jawab terciptanya keadilan diseluruh negri.
d) Dewan pos, yaitu
sebuah lembaga yang bertanggung jawab mengatur kelancaran surat menyurat.
e) Mendirikan
hisbah badan yang mengawasi pasar, timbangan, takaran, tata tertib, kebersihan.
c. Menetapkan
kalender islam dan tahun hijriyah sebagai permulaan tahun baru islam.
d. Menjadiakan
masjid-mesjid menjadi lebih indah dan megah, misalnya masjidil al-haram dan masjid
nabawi.
Umar
memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir
dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Lulu'ah
yang beragama Zoroastrianisme (Majusi). Untuk menentukan penggantinya, Umar
tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat
dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi
khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi
Waqqash, Abdurrahman bin 'Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah,
melalui proses yang agak ketat dengan Ali bin Abi Thalib.
1.
Biografi Singkat
dan Prosesi Pemilihan Khalifah Utsman Bin Affan
Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 573 M pada
sebuah keluarga dari suku Quraisy bani Umayah. Dia lebih muda 6 tahun dari
Rasulullah SAW. Nenek
moyangnya bersatu dengan nasab Nabi Muhammad pada generasi ke-5. Sebelum masuk
islam ia di panggil degan sebutan Abu Amr. Ia begelar Dzun Nurain, karena menikahi dua putri nabi (menjadi
khalifah 644-655 M) adalah khalifah ke-3 dalam sejarah Islam. Kabilah nya
bani umayyah, merupakan kabilah quraisy yang dihormati kekayaannya. kekayaan
tersebut mereka peroleh dari usaha perdagangan. Keluaga Usman juga kaya raya.
Pada usia remaja, usman sudah mulai menjalankan usaha dagangnya keberbagai
negri. Abu Bakar, salah satu sahabat nabi dan sebagai teman dagang. Lewat Abu
Bakar inilah Usman masuk islam.
Usman bin
affan termasuk salah satu Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang
pertama kali masuk islam pada awal kenabaian Muhammad saw. Beliau masuk islam
setelah mendengar kabar kebenaran islam dari Abu Bakar.jadi beliau masuk islam
setelah Ali Bin Abi Thalib dan Zaid Bin Haris. Usman Bin Affan termasuk keluarga kabilah Ummah dari
suku quraisy yang lahir pada tahun ke-6 setelah lahirnya Nabi Muhammad saw
dikota mekkah. Gelar yang beliau sandang adalah Dzun Nuraini Wal Hijrotaini, artinya
mempunyai dua cahaya dan hijrah dua kali. Dikatakan mempunyai dua cahaya karena
beliau dinikahkan nabi saw dengan dua putrinya yaitu rukayah, setelah rukayah
wafat, kemudian nabi saw menikahkan dengan umi kulsum adiknya rukayah. Adapun
dikatakan hijrah dua kali karena beliau hijrah dua kali yaitu ke
habsyi dan turut pula hijrah ke madinah.
Pada hari
rabu waktu subuh, 4 dzulhijjah 23 H, khalifah Umar yang hendak mengimami shalat
dimesjid mengalami nasib naas. Ia ditikam oleh seorang budak dari Persia
pemilik mughirah bin syu’bah yang bernama abu lu’lu’ah fairuz. Setelah
penikaman, Umar masih bertahan selama beberapa hari. Dalam keadaan sakit, Umar bin Khattab tidak dapat memutuskan bagaimana
cara terbaik menentukan khalifah penggantinya. Segera setelah peristiwa
penikaman dirinya oleh Fairuz, seorang majusi persia, Umar mempertimbangkan
untuk tidak memilih pengganti sebagaimana dilakukan rasulullah. Namun Umar juga
berpikir untuk meninggalkan wasiat seperti dilakukan Abu Bakar. Sebagai jalan
keluar, Umar menunjuk enam orang Sahabat sebagai Dewan Formatur yang
bertugas memilih Khalifah baru. Keenam Orang itu adalah Abdurrahman bin
Auf, Saad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Utsman bin
Affan dan Ali bin Abi Thalib.
2. Strategi dan Tantangan Dakwah Masa Khalifah Utsman Bin
Affan
Pada masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia,
Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan
Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.
Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun, pada
paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di
kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda
dengan kepemimpinan Umar. Ini karena fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba’
Al-Yamani salah seorang Yahudi yang berpura-pura masuk islam. Ibnu Saba’ ini
gemar berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk menyebarkan
fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa keislamannya. Akhirnya pada tahun 35
H/1655 M, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang
yang berhasil dihasut oleh Abdullah bin Saba’ itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat
berburuk sangka terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya
mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting di antaranya
adalah Marwan bin Hakam Rahimahullah. Dialah pada dasarnya yang dianggap oleh
orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman hanya
menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam
jabatan-jabatan penting, Utsman
laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah
terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta
kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Utsman
sendiri. Itu semua akibat fitnah yang ditebarkan oleh Abdullah bin Saba’,
meskipun Utsman tercatat paling berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus
banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun
jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid nabi di
Madinah.
3.
Jasa-jasa khalifah Utsman bin affan
1.
Merenovasi dan mempercantik masjid nabawi di madinah
yang telah dibangun oleh khalifah umar bin khatab
2.
Membuat mushaf yang standar untuk menghindari
perselisihan pembelajaran al-quran, kemudian menggandakannya menjadi lima
mushaf.
3.
Salinan mushaf yang asli tersebut terkenal dengan nama
Mushaf Utsmani atau Mushaf Al Imam, sedangkan empat lainnya dikirim ke makkah,
syiria, basrah, dan kuffah.
4.
Apabila ada salinan yang tidak sesuai dengan Mushaf Al
Imam maka di anggap tidak sah. Adapun panitia penggandaan diketuai oleh Zaid
bin Tsabit sedang, para anggotanya terdiri dari: Abdullah in Zubair, Said bin ash dan Abdurrahman bin harist bin hisyam.
Alasan di adakannya penulisan dan penggandaan mushaf al quran adalah:
a) Banyak para
penghafal quran (hufadz) yang gugur dalam berbagai pertempuran.
b) Semakin
sulit memantau pembelajaran al-qur’an karena kekuasaan Islam sangat luas,
sehingga masing-masing daerah memerlukan dasr hokum al-quran agar menyamakan
dialek dalam membaca al-quran.
c) Agar ada
acuan yang jelas bagi para qori diseluruh kekuasaan Islam.
5.
Memperluas kekuasaan islam sampai kebeberapa wilayah,
misalnya Armenia, Afrika, Azerbaijan, Kepulauan Ciprus.
1.
Biografi Singkat
dan Prosesi Pemilihan Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib putra Abu Thalib lahir di makkah
setelah Nabi Muhammad lahir. Sejak kecil Ali sangat dekat dengan Nabi saw.
Bahkan di asuh oleh beliau, maka Ali termasuk orang yang pertama kali masuk
islam atau Assabiquunal Awwalun. Sifat yang melekat pada Ali adalah rendah hati
jujur dan shaleh. Setelah dewasa Ali menikah dengan Fatimah putri Rasulullah
saw dan mempunyai dua putra yang beranama hasan dan husein.
Dibawah asuhan Rasulullah saw. Ali tumbuh berkembang
segala kebaikan prilaku diajarkan oleh nabi kepada sepupunya. Ali tumbuh mejadi
pemuda cerdas, pemberani, tegas, juga lembut hati dan pemurah. Kecerdasannya
sangat menonjol. Ia merupakan sahabat nabi yang paling paham al-quran dan
sunnah, karena merupakan salah satu sahbat terdekat nabi.
Ketika para pemberontak terus mengepung rumah Utsman. Ali
memerintahkan ketiga puteranya, Hasan, Husain dan Muhammad bin Ali al-Hanafiyah
mengawal Utsman dan mencegah para pemberontak memasuki rumah. Namun kekuatan
yang sangat besar dari pemberontak akhirnya berhasil menerobos masuk dan
membunuh Khalifah Utsman.
2. Strategi dan Tantangan Dakwah Masa Khalifah Utsman Bin
Affan
Setelah Utsman
wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.
Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi
berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang
dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali
menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa
pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik
kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan
memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam
sebagaimana pernah diterapkan Umar.
Tidak lama
setelah itu, Ali bin Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan
Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka
menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zhalim. Ali
sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah
dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara
damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun
berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah
dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya.
Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke
Madinah.
Bersamaan
dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya
perlawanan dari para gubernur di Damaskus, Mu'awiyah, yang didukung oleh
sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.
Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, serta Ali
bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu
dengan pasukan Mu'awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal
dengan nama Perang Shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase),
tetapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan
timbulnya golongan ketiga, kaum Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan
Ali.
3. Jasa-jasa
khalifah Utsman bin affan
1. Dibidang
pemerintahan
a)
Menerapkan sistem
pemerintahan yang efekti dan efisien dengan mengadakan perombakan para gubernur
dan pejabat yang tidak bisa bekerja dengan baik yaitu tidak menunjukan
prestasi, tidak adil, dan berakhlak culas. Mereka ini kebetulan masih keluarga
Utsman bin Affan. Adapun pengganti mereka yang diangkat oleh khalifah Ali bin
Abi Thalib antara lain: Sabil
bin hanif sebagai gubernur syiria,
Utsman
bin Hanif sebagai gubernur Basroh,
Qois
bin saad sebagai gubernur Mesir dan Umroh
bin Shihab sebagai gubernur kuffah
b)
Mengembalikan tanah
milik Negara dan harta baitul maal yang diambil dengan cara yang tidak benar
oleh pejabat dan keluarga utsman bin affan.
2. Bidang
Politik Militer
Ali adalah seorang yang
ahli dalam strategi perang penasehat yang biajksana, penegak hokum yang adil,
berbudi luhur baik kepada kawan maupun lawan.
3. Bidang
ilmu bahasa
Daerah kekuasaan islam
ketika khalifah Ali bin Abi thalib memerintah sudah merambah sampai ke S.
Eufrat, Tigris, dan mencapai daratan indus atau india. Hal itu menyebabkan
masyarakan yang berasal dari luar jazirah arab banyak memeluk agama islam.
Konsekuensi dari perkembangan itu adalah adanya kesalahan fatal dalam
memperdalam al-quran dan hadits. Mencermati hal itu khalifah Ali bin Abi thalib
menunjuk Abu Aswad ad-duali untuk menyusun kaidah atau pokok-pokok ilmu nahwu, sehingga kaum
muslimin yang berasal dari luar jazirah arab dapat memperdalam al-quran dan
hadits.
Di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib
umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu'awiyah, Syi'ah
(pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudu) yang menyusup pada barisan tentara Ali,
dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak
menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Khawarij menyebabkan tentaranya semakin
lemah, sementara posisi Mu'awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H
(660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij yaitu Abdullah bin
Muljam..
E. Belajar Kepemimpinan Anti-Conflict of Interest dari
Khulafaur Rasyidin
Kasus conflict of interest atau konflik kepentingan
sudah tidak asing lagi di tengah kita. Budaya meraup keuntungan
sebanyak-banyaknya selagi menjabat atau mempimpin sudah lumrah terjadi pada
bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan ini. Warisan budaya
KKN yang menjamur inilah salah satu biang dari seseorang melakukan agenda conflict
of interest. Memang tidak semua conflict of interest dipidanakan
karena dianggap tidak melanggar hukum dan dianggap telah memenuhi persyaratan
yang berlaku. Meski begitu, seorang pemimpin harusnya fokus dengan apa yang dipimpin.
Entah itu pemimpin setingkat presiden, menteri atau RT di daerah kita.
Pemimpin pun harusnya sebisa mungkin menghindari conflict of
interest karena perbuatan ini akan melukai amanah yang sudah rakyat
titipkan pada mereka. Sebagai negara mayoritas Islam, seharusnya Indonesia meneladani
pemimpin-pemimpin zaman dulu yang berlaku adil dan tidak gila harta.
Pemimpin-pemimpin itu bisa dimulai dari kepemimpinan Nabi Muhammad sampai
Khalifah Empat atau Khulafaur Rasyidin.
Menurut buku A Short History of The Arabs karya Philip K Hitti, Mereka
dianggap sebagai pengganti kepempimpinan Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Mereka
adalah Abu Bakar (632-634M), Umar bin Khattab (634-644 M), Utsman bin Affan
(644-656M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661M). Mungkin sudah banyak yang
membahas kepemimpinan ala Nabi Muhammad yang tersebar baik di media cetak, digital
atau TV. Namun sedikit yang membahas tongkat estafet kepemimpinan pasca Nabi
Muhammad yakni Khulafaur Rasyidin.
Nabi Muhammad memang tidak menunjuk secara jelas, siapa sahabat yang
nantinya akan menggantikan estafet kepemimpinan Nabi Muhammad di Jazirah Arab.
Nabi Muhammad hanya menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan dirinya mengimami
salat ketika Nabi Muhammad sedang sakit. Setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, terjadi
perdebatan akan siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad selanjutnya. Bukan
menggantikan kenabian, melainkan menggantikan urusan Nabi dalam hal
kepemimpinan karena bagi umat Islam Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
Terlepas dari perdebatan itu, kita tahu bahwa Khulafaur Rasyidin
dipilih atas konsensus musyawarah bersama di kalangan warga dan perwakilan
beberapa suku. Dan semua yang terpilih merupakan sahabat-sahabat terdekat Nabi
Muhammad yang mana selalu menemani Nabi dalam berdakwah.
Saya
tidak akan membahas panjang lebar tentang Khulafaur Rasyidin ini karena bisa
satu buku untuk membahas semuanya. Saya hanya akan mendeskripsikan tentang
kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang jauh dari kata conflict of interest.
1.
Khalifah Abu Bakar Ash–Shiddiq
Beliau
yang sangat hati-hati terhadap uang rakyat. Khalifah Abu Bakar bersama
pegawainya selalu menghitung uang rakyat atau zakat secara akurat sehingga
tidak ada kekurangan atau kelebihan pembayaran sehingga pendistribusiannya
sangat merata.
Abu
Bakar juga memerangi orang mampu dan kaya yang membangkang untuk membayar
zakat. Cara ini dilakukan agar terjalin solidaritas antara si kaya dan miskin
sehingga dengan cara ini orang yang tidak mampu bisa dibantu oleh orang kaya
semaksimal mungkin.
Abu Bakar tidak mengambil sepeserpun gajinya sebagai khalifah padahal
sudah disediakan. Selama dua tahun menjabat, Abu Bakar mendonasikan seluruh
hartanya untuk kepemimpinan selanjutnya. Abu Bakar membiayai kehidupan
pribadinya dengan berdagang secara jujur.
2.
Khalifah Umar bin Khattab
Beliau yang
sangat peduli dan peka terhadap masyarakat kaum bawah. Sama seperti Khalifah
Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab juga tidak mengambil gajinya padahal
kehidupan Umar bin Khattab sangat jauh dari budaya kemewah-mewahan. Ada sebuah
riwayat yang mengatakan bahwa Umar bin Khattab hanya memiliki satu helai baju
dan satu jubah yang mana keduanya dipenuhi tambalan.
Umar bin
Khattab juga terbiasa tidur di atas pelepah kurma padahal posisi Umar bin
Khattab adalah seorang khalifah (setingkat dengan presiden saat ini).
Khalifah
Umar bin Khattab juga sering blusukan di malam buta ketika tugas administrasi
kekhalifaan telah selesai. Khalifah Umar bin Khattab biasa keliling di wilayah
Jazirah Arab untuk memastikan warganya tidak ada yang kelaparan.
Pernah suatu
ketika Khalifah Umar bin Khattab mendapati rakyatnya di pelosok Madinah yang
sedang merebus batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan. Khalifah Umar bin
Khattab menangis melihat ini karena menganggap dirinya kecolongan. Akhirnya
Khalifah Umar bin Khattab membagikan sekarung gandum untuk rakyatnya itu. Umar
membawakan sekarung gandum itu seorang diri sebagai penebusan atas kelalaian
dirinya yang menyebabkan rakyatnya menderita kelaparan.
Langkah
blusukan Umar bin Khattab ini dilakukan sembunyi-sembunyi. Tak ingin seorang
pun tahu bahwa dirinya berbuat kebajikan dan tak ingin seorang tahu bahwa
dirinya seorang khalifah. Rakyat yang ditolong Umar bin Khattab itu juga
mulanya tidak mengenal bahwa yang datang dan membawakan sekarung gandum adalah
seorang khalifah.
Berbeda
dengan apa yang terjadi saat ini di mana semuanya dilakukan dengan undangan dan
sorotan media dari mana-mana. Seolah-olah seisi dunia harus tahu bahwa dirinya
seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya.
3.
Khalifah Utsman bin Affan
Beliau yang
memiskinkan diri sendiri. Jika kebanyakan pemimpin adalah memperkaya diri
sendiri dengan ikut proyek sana dan sini dengan perusahaan yang dimilikinya
sampai sikut sana dan sini, lain lagi dengan Khalifah Utsman bin Affan.
Khalifah Utsman bin Affan selalu membelanjakan harta pribadinya untuk
kepentingan rakyat. Meski dikenal sebagai khalifah terkaya karena sebelum
menjadi khalifah juga sudah kaya, Utsman bin Affan selalu menghindar dari
konflik kepentingan.
Utsman bin
Affan selalu membeli sumur (sumur dianggap setara dengan minyak mentah saat
ini) untuk rakyat memenuhi kebutuhannya. Baik untuk diminum maupun untuk lahan
pertanian mereka. Utsman bin Affan juga dikenal sebagai sahabat yang paling
banyak membebaskan budak dengan uang saku pribadinya. Selain tidak mengambil
gajinya sebagai khalifah, Utsman bin Affan juga selalu menjamin kehidupan anak
yatim piatu dan janda.
4.
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Beliau yang selalu
mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Hal ini bisa
dilihat dari fakta bahwa Ali bin Abi Thalib menolak menggunakan dana umat hanya
untuk kepentingan pribadi meski banyak bisik-bisik dari sana sini. Akhirnya pejabat
yang tertangkap menyalahgunakan dana uang rakyat akan diadili, tidak memandang
dari suku atau keturunan siapa.
Pendistribusian dan pembayaran pajak dan zakat dilakukan sepekan sekali
pada hari Kamis dan proses perhitungan saldo pada hari Sabtu dilakukan dengan
transparan. Proses pendistribusian ini dilakukan sangat ketat sehingga sulit
untuk melakukan korupsi atau suap.
Dari keempat Khalifaur
Rasyidin ini, kita harusnya banyak mengambil hikmahnya. Kita semakin
melupakan sosok-sosok hebat berintegrasi tinggi sehingga kita mudah
menyelewengkan jabatan demi pundi-pundi keuntungan pribadi.
Kita juga semakin melupakan pola hidup sederhana yang dilakukan
khalifah empat di atas dan malah berlomba-lomba hidup bermewah-mewah. Bajunya
saja yang sederhana, tapi di belakangnya (perusahaan, hunian, dan kendaraan)
sungguh mewah tak terkira.