Dari sekian informasi yang kita terima dari berbagai arah sering tidak bisa jadi ilmu yang manfaat, karena pikiran kita sibuk berprasangka. Dalam hidup ini, kita diajak belajar untuk menjadi ruang yang siap menerima, mengolah, sampai menyajikan apa yang tersirat dari yang tersurat, terasa dari yang teraba, sehingga keterbatasan tidak menjadi hambatan, kecuali jika ada kepicikan yang membelenggu, atau kesombongan yang membutakan.
Banyak politisi yang memiliki nama sangat “islami”, rajin umroh, rajin berkhotbah, dahinya hitam tanda lebih lama bersujud, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa/ketika nyantri merupakan orang yang paling keras berteriak soal korupsi, namun ketika kini masuk lingkaran kekuasaan, mereka ternyata juga orang yang paling kuat menginjak amanah rakyat dan rajin mencuri dan merampok kekayaan negara. Fenomena apa ini?
Tuhan memang menyediakan kitab suci melalui rasulNya yang dapat digunakan sebagai petunjuk, namun agar petunjuk tersebut dapat diamalkan ke jalan yang diajarkan Tuhan, maka manusia diwajibkan menggunakan akal. Kalau kitab suci dapat “mengislamkan” seseorang secara otomatis, maka mestinya ketika kitab suci tersebut disodorkan kepada seekor binatang, maka binatang tersebut lantas “islam”. Namun kenyataan tersebut tidak terjadi. Dengan demikian, makin jelas bahwa akal yang menjadi “senjata” utama seseorang untuk menuju kualitas khalifah yang Islam. Kitab suci hanya menyediakan jalan dan resep, namun jika tidak ditangkap dan diolah oleh akal, maka kitab itu hanya menjadi benda mati. Karenanya Allah selalu menantang umatnya dengan kata-kata : “jika kamu sekalian mau berpikir”.
Realitas empiris dunia akan dapat didayagunakan ke jalan Allah jika manusia yang hadir disitu menggunakan akalnya untuk merekonstruksi kesadarannya, untuk mentransendir dunia obyektif ke arah yang ideal sesuai ajaran kitab suci. Jika manusia menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci karena digerakkan oleh nafsunya, dan bukan oleh akalnya, maka tafsiran itu paling jauh hanya berhenti untuk kepentingan simbol, kekuasaan, kebanggaan, kesalehan pribadi, dst.